Mengenal Diri, Mengenal Allah

LEMBAH SUFI - Dalam tradisi tasawuf islam, mengenal diri menjadi fondasi utama perjalanan ruhani bagi seorang salik. Kalimat yang sering dikaitkan dengan Nabi Muhammad SAW ini bukan sekadar pepatah, melainkan pintu gerbang menuju makrifatullah pengetahuan hakiki tentang Allah SWT

Di dalam tarekat sufi mengenal diri bukanlah introspeksi psikologis biasa, melainkan proses penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) yang mendalam untuk menghilangkan hijab antara hamba dan Khaliqnya

Rasulullah SAW bersabda:

“Man arafa nafsahu faqad arafa rabbahu” 

Barang siapa mengenal dirinya, maka ia telah mengenal Tuhannya

 

Mengenal Diri, Mengenal Allah

Mengapa Mengenal Diri Begitu Penting?

Manusia diciptakan dengan dua dimensi: lahiriah (jasmani) dan batiniah (ruhani). Jiwa atau nafs adalah pusat segalanya. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman: 

“Dan jiwa serta penyempurnanya (Allah), maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kefasikan dan ketakwaannya” (QS. Asy-Syams: 7-8)

Jiwa yang belum disucikan cenderung pada nafs al-ammarah bi al-su’ (jiwa yang menyuruh berbuat jahat), penuh nafsu, iri, sombong, dan lupa kepada Allah. Sebaliknya, jiwa yang telah dikenal dan disucikan naik menjadi nafs al-lawwamah (jiwa yang menyesal), lalu nafs al-muthmainnah (jiwa yang tenang dan tenteram)

Para sufi memandang diri sebagai cermin Tuhan. Ibnu Arabi, misalnya, mengajarkan bahwa manusia adalah microcosm (alam kecil) yang mencerminkan macrocosm (alam besar). Mengenal diri berarti mengenal asal-usul kita dari Nur Muhammad, memahami sifat-sifat tercela yang menutupi cahaya ilahi, dan akhirnya menyaksikan kehadiran Allah di dalam hati 

Tarekat Sufi sebagai Jalan Praktis. Tarekat bukanlah aliran sesat atau bid’ah, melainkan metodologi terstruktur yang dibangun di atas syariat untuk mencapai hakikat

Tarekat-tarekat besar seperti Qadariyah, Naqsyabandiyah, Syadziliyah, dan lainnya hadir di Indonesia sejak abad ke-15 dan terus berkembang hingga kini. Di dalam tarekat, mengenal diri dilakukan secara bertahap di bawah bimbingan Guru Mursyid yang telah mencapai maqam tinggi yang ruhaniahnya tersambung dengan ruhaniah rasulullah SAW

Adapun proses utamanya adalah tazkiyatun nafs yang terbagi dalam tiga tahapan yaitu:

1. Takhalli (Pengosongan): 

Membersihkan diri dari sifat tercela (akhlak madzmumah) seperti hasad, riya’, sombong, dan cinta dunia. Ini dilakukan dengan taubat nasuha, puasa sunnah, dan muhasabah (introspeksi harian)

2. Tahalli (Penghiasan): 

Menghiasi jiwa dengan sifat terpuji (akhlak mahmudah) seperti tawadhu, sabar, ikhlas, dan cinta kasih. Praktiknya termasuk memperbanyak dzikirullah, shalat malam, dan berbuat baik kepada sesama

3. Tajalli (Penyingkapan): 

Ketika hati telah bersih, Allah menyingkapkan cahaya-Nya (tajalli). Saat itulah fana fi Allah (lenyap dalam Allah) dan baqa bi Allah (kekal bersama Allah) mulai dirasakan. Tajalli

Di tarekat, praktik-praktik konkret untuk mengenal diri meliputi:


Dzikir mengingat Allah secara kontinu “Allah, Allah, Allah” sambil mengawasi hati. Dalam Tarekat Naqsyabandiyah, ada latihan khalwat, iktikaf atau suluk dengan tujuan untuk melihat gerak nafs dan pembersihan jiwa (tazkiyatun nafs)

Muhasabah mengenali cacat batin evaluasi diri setiap hari malam dan Muqarrah

Semua ini dilakukan di atas fondasi syariat yang murni, shalat lima waktu, puasa Ramadhan, dan ber akhlak mulia. Tanpa syariat, tarekat bisa menyimpang

Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumiddin menekankan bahwa mengenal diri adalah langkah pertama menuju kebahagiaan dunia-akhirat

Jalaluddin Rumi, sang penyair sufi, berkata bahwa hati manusia seperti cermin yang berkarat, membersihkannya akan memantulkan wajah Tuhan

Di Indonesia, ulama sufi Prof.Dr.H.Saidi Syekh Kadirun Yahya MA.MSC mengajarkan semua muridnya "mengenal diri mengenal Tuhan" melalui wirid, dzikir berjamaah disurau dan melaksanakan ibadah suluk. Surau Nurul Amin Jawa Timur

Manfaat di Era Modern. Di tengah hiruk-pikuk media sosial, krisis identitas, mengenal diri dalam tarekat menawarkan solusi ruhani yang mendalam. Adapun manfaatnya ialah:

  • Ketenangan jiwa menjadikan (nafs muthmainnah) di tengah stres
  • Akhlak mulia yang teruji, mengurangi konflik sosial
  • Kedekatan dengan Allah yang menghasilkan kekuatan batin
  • Keseimbangan antara dunia dan akhirat


Mengenal diri dalam tarekat sufi bukanlah tujuan akhir, melainkan awal dari perjalanan panjang menuju Allah. Ia mengajak kita dari kegelapan nafsu menuju cahaya ilahi, dari ego menuju ikhlas, dari keterpisahan menuju tauhid hakiki

Maka bagi siapa pun yang ingin memulai hendaklah harus melalui bimbingan Guru Mursyid yang Kamil (sempurna dirinya telah mencapai maqam fana dan baqa) serta mukamil yaitu dapat menyempurnakan muridnya untuk wushul (sampai) kepada Allah. Beliau adalah pewaris Nabi, alim, zuhud, dan penyayang yang sanadnya tersambung kepada Rasulullah SAW. itulah Mengenal Diri Mengenal Allah

Surau Nurul Amin Tempat Mengenal Tuhan

Surau Nurul Amin Madiun Baru

0 Response to "Mengenal Diri, Mengenal Allah"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel